Bagaimana Hubungan Moralitas Dan Hukum Forex




Bagaimana Hubungan Moralitas Dan Hukum ForexUNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIEN Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT Yang Telah melimpahkan rahmat, petunjuk serta karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan dalam bentuk makalah Yang berjudul Karakteristik Perkembangan Moral dan Spiritual Peserta Dididik serta Implikasinya Pada Pendidikan. Adapun makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik (PPD). Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan Saran dan kritik Yang dapat dijadikan perbaikan untuk tulisan-tulisan yang akan datang. Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami telah banyak mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penyusun ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah, Ahmad Rifqy Ash Shiddiqy, S. Pd, yang Telah membimbing dalam penyusunan makalah ini, juga Pada Rekan-Rekan Kelompok 8 atas kerjasama dan Yang Telah diberikan Sprachwerkzeuge. Kami berharap semoga makalah ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya serta untuk menambah pembendaharaan pengetahuan dalam memahami perkembangan pada peserta didik. Semoga bantuan, dorongan serta bimbingan yang telah diberikan kepada kami dalam penyusunan laporan ini mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT. Aamiin Bandung, 24. September 2012 1,1 Latar Belakang Permasalahan Peserta didik merupakan aset utama dalam misi memajukan bangsa. Mereka perlu didik dengan benar supaya tidak manjadi generasi penerus yang salah kaprah. Pendidikan jang diberikan tidak hanya dalam lingkup akademik namun mendidik disini dimaksudkan untuk membentuk kepribadian yang sesuai dengan norma hukum dan agama. Dalam UU RI No. 2 Jahr 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab II Pasal 4, dijelaskan bahwa: 8221Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan Manusia Indonesien seutuhnya, yaitu Manusia Yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur , Memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadianische yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan bangsa82211. Ini merupakan salah satu dasar als tujuan dari pendidikan nasional yang seharusnya menjadi acuan bangsa Indonesien. Dipasal tersebut juga Membranen tentang tujuan pendidikan nasional untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME. Maka dari itu diperlukan pengembangan moralischen an religius pada peserta didik. Ditambah lagi dengan Semakin menurunnya moralische dan akhlak remaja masa Kini Yang ditandai dengan aksi anarkis, penggunaan narkoba, free sex, dan pornografi sehingga urgensi Pengembangan moralische dan Agama Harus Lebih ditekankan dalam lingkup Pendidikan. 1.2 Rumusan dan Pertanyaan 1. Apa penyebab akhlak dan moralische remaja masa Kini Semakin menurun 2. Apa Saja karakteristik Pengembangan moralische dan religi Pada peserta Didik 3. Apa faktor-faktor Pengembangan moralische dan religi Pada peserta Didik 4. Upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan moralische dan religi pada peserta Didik 5. Bagaimana implikasi perkembangan peserta Didik terhadap Pendidikan 1.3 Tujuan dan Manfaat pembahasan Tujuan pembahasan mengenai karakteristik Pengembangan moralische dan religi pada peserta Didik yaitu 183 Mengetahui penyebab akhlak dan moralische remaja masa Kini Semakin menurun 183 Mengetahui apa saja yang termasuk karakteristik Pengembangan moral dan religi peserta didik. 183 Mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhiperkembangan moralischen an religi peserta didik. 183 Ansichten Seite Diskussion Bearbeiten Versionen Anderungen an verlinkten Seiten Hochladen Spezialseiten Druckversion Permanent Link http://www. germanyinews. com/ 183 Memahami implikasi perkembangan peserta Didik terhadap Pendidikan 1.4 Metode Pembahasan Dalam penulisan makalah ini untuk memperoleh Daten-Daten Yang dibutuhkan, penulis menggunakan metode literatur dan mencari Informasi Dari Medien elektronik atau Browsing di Internet. Hal ini dilakukan un uk uk un un............................................ 2.1 Penyebab Timbulnya Krisis Akhlak dan Moral dikalangan Remaja Adapun Yang Menjadi akar masalah penyebab timbulnya krisis akhlak dan moralische dalam diri banyak remaja diantaranya adalah: Pertama, krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap Agama Yang menyebabkan hilangnya pengontrol Diri Dari dalam (Selbstkontrolle) 3. Selanjutnya alat pengontrol perpindahan kepada hukum als masyarakat. Namun karena hukum als masyarakat juga sudah lemah, maka hilanglah seluruh alat kontrol. Akibatnya manusia dapat berbuat sesuka hati dalam melakukan pelanggaran tanpa ada yang menegur. Kedua, krise akhlak terjadi karena pembinaan moralisches yang dilakukan oleh orang tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif. Bahwa penanggungjawab pelaksanaan pendidikan von negara kita adalah keluarga, masyarakat dan pemerintah. Ketiga institusi pendidikan sudah terbawa ol arus kehidupan yang mengutamakan materi tanpa diimbangi dengan pembinaan geistig geistig. Deutsch - Ubersetzung - Linguee als Ubersetzung von "keita" vorschlagen Linguee - Worterbuch Deutsch - Englisch ausschlie?lich englische Resultate fur. Derasnya arus budaya Yang demikian didukung oleh para penyandang modal Yang semata-mata mengeruk keuntungan Material dengan memanfaatkan para remaja tanpa memperhatikan dampaknya bagi kerusakan akhlak para generasi penerus bangsa. Keempat, krisis, akhlak, terjadi, karena, belum, adanya, kemauan, yang, sungguh-sungguh, dari, pemerintah. Kekuasaan, dana, tekhnologi, sumber, daya, manusia, peluang, dan, sebagainya, yang, dimiliki, pemerintah, belum, banyak, digunakan, untuk, melakukan, pembinaan, akhlak, bangsa. Hal Yang demikian Semakin diperparah dengan ulah sebagian Elite politik penguasa Yang sematamata mengejar kedudukan, kekayaan dan sebagainya dengan cara-cara Yang tidak mendidik, sepeati adanya Praktek Korupsi, kolusi dan Nepotisme (KKN). Hal Yang demikian terjadi mengingat bangsa Indonesien masih menerapkan pola hidup paternalistischen 2.2 Karakteristik Perkembangan Moral dan Religius Anak dan Remaja Berikut ini paparan mengenai karakteristik perkembangan moralitas dan religius anak dan remaja: 1. Karakteristik perkembangan moralitas Pada anak Menurut Lawrance Kohlberg, ada tiga Tingkat dan tahapan (Vorkonventionelle Ebene), moralitas dari aturan-aturan (konventionelle Ebene), dan moralitas setelah konvensional (postkonventionell). 2. Karakteristik perkembangan moralitas pada remaja Dalam moralitas terdapat nilia-nilai moralischen, yaitu seruan untuk berbuat baik dan larangan berbuat keburukan. Seseorang dikatakan bermoral apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moralische yang dijunjung tinggi. Pada masa remaja, individu tersebut Harus mengendalikan perilakunya sendiri Agar sesuai dengan norma dan nilai Yang berlaku dimasnyarakat, yang Mana sebelumnya Menjadi tanggung Jawab Guru dan orang tua. 3. Karakteristik perkembangan religius Pada anak Penanaman nilai-nilai keagamaan menyangkut konsep tentang ketuhanan, ritual ibadah dan nilai moralischen Yang berlangsung semenjak usia dini, Akan Mampu mengakar Secara Kuat dan membawa dampak Yang signifikan Pada diri seseorang sepanjang hidupnya (Hurlock, 1978 hal. 26). Hal ini dikarenakan pada masa ini, anak belum mempunyai kemampuan menolak ataupun menyetujui setiap pengetahuan yang didapatkannya. Tahapan-tahapan perkembangan keagamaan pada anak: 1. Masa anak-anak ein. Sikap keagamaan reseptif meskipun banyak bertanya b. Pandangan ke-Tuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan) c. Penghayatan secara rohaniah masih oberflachlich (belum dalam) 2. Masa anak sekolah a. Sikap keagamaan bersifat reseptif als disertai pengertian b. Pandangan ke-Tuhanan diterangkan secararasional c. Penghayatan secara rohaniah makin mendalam 4. Karakteristik perkembangan religius pada remaja Perkembangan religius remaja tergantung bagaimana als apa yang diperolehnya sejak masa anak-anak. Um...................................................... Begitu pula sebaliknya, apabila terdapat banyak kerancuan pemahaman terhadap keagamaan, maka perkembangan religiosen remaja tersebut akan terganggu. Pada masa remaja, keagamaan sama pentingnya dengan moralisch. Ahli umum (Zakiah, Daradjat, Starbuch, William James) sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan keagamaan itu dibagi dalam dua tahapan yang sekundar kualitatif menunjukan karakteristik yang berbeda. 1. Masa remaja awal a. Sikap negativ sebbkankan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-orang yang bergama secara hipocrit. B. Pandangan dalam ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran yang tidak cocok c. Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptisch, sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai kegiatan ritual 2. Masa remaja akhir a. Sikap kembali pada umumnya kearah positif dengan tercapainya kedewasaan intelektual b. Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkan dalam hal konteks agama yang dianutnya c. Penghayatan rohaniahnya Kembali Tenang 2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral dan Spiritual Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai Modell. Bagi para ahli psikoanalisis, perkembangan moralischen dipandang sebagai proses internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan dari sudut organisch biologis. Menurut psikoanalisis, moralische dan nilai menyatu dalam konsep Uberich Yang dibentuk melalui Jalan internalisasi larangan-larangan atau perintah-perintah Yang datang Dari luar (khususnya orang tua) sedemikian Rupa, sehingga akhirnya terpencar Dari dalam diri sendiri. Teori-teori lan yang nicht psikoanalisi beranggapan bahwa hubungan anak-orang tua bukan satu satunya sarana pembentukan moral. Para sosiolog beranggapan bahwa masyarakat sendeniri mempunyai peran penting dalam pembentukan moralisch. Dalam Usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup terterntu, Banyak faktor Yang mempengaruhi perkembangan moralische religi dan repeserta Didik, diantaranya yaitu: 1. Faktor Tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak. 2. Faktor seberapa banyak Modell (orang-orang dewasa yang simpatik, teman-teman, orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) Yang diidentifikasi oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal. 3. Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala segala unsur Lingkungan sozialen Yang berpengaruh, yang tampaknya sangat Penting adalah unsicher Lingkungan berbentuk Manusia Yang dikenal atau dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan Dari nilai-nilai tertentu langsung. 4. Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moralischen adalah tingkat penalaran. Perkembangan moralischen yang sifatnya penalaran menurut Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moralische seseorang. 5. Faktor Interaksi sosial dalam memberik kesepakatan Pada anak untuk mempelajari dan menerapkan standart perilaku Yang Genehmigt masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang gelegen. 2.4 Upaya Optimalisasi Perkembangan Moral dan Spiritual Hurlock mengemukakan ada empat Pokok utama Yang Perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu: 1. Mempelajari apa yang diharapkan Kelompok sosial Dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan. Tindakan tertentu Yang dianggap 8220benar8221 atau 8220salah8221 karena tindakan itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan Mitglieder Nutzer Kelompok. Kebiasaan Yang Paling penting dibakukan menjadi peraturan hukum dengan hukuman tertentu bagi yang melanggarnya. Yang lainnya, bertahan sebagai kebiasaan tanpa hukuman tertentu bagi yang melanggarnya. 2. Pengambangan hati nuranni sebagai kendali internes bagi perliaku einzu. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi als tindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hukum. 3. Pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah mengembangkan hati nurani, hati nurani mereka dibawa von digunakan sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah sejenis Auswertungen diri, khusus terjadi bila seorang einzeln mengakui perilakunya berbeda dengan nilai moralische yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Rasa malu adalah reaksi emosionalen yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya penilaischen negatif terhadap dirinya. Penilaian ini belum tentu benar-benar ada, namens mengakibatkan rasa rendah diri terhadap kelompoknya. 4. Mencontohkan, memberikan contoh berarti Menjadi Modell perilaku Yang diinginkan Muncul Dari anak, karena cara ini bisa Menjadi cara yang paling efektif untuk membentuk moralische anak. 5. Latihan dan Pembiasaan, menurut Robert Coles (Wantah, 2005) Latihan dan pembiasaan merupakan strategi Penting dalam pembentukan perilaku moralische Pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan als pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara, menjaga kesehatan und lain sebagainya untuk anak. Hal ini akan mengajarkan moralischen yang positif bagi anak 6. Kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial. Interaksi sosial memegang peranan pentieren dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang disetujui secara gesellschaftlichen, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati. Interimsi sosial awal terjadi didalam kelompok keluarga. An............................................................ Disini anak memperoleh motivasi yanjg diperlukan untuk mengikuti standar perilaku yang ditetapkan anggota keluarga. Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar kode moralische, tetap Mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana orang gelegen mengevaluasi perilaku Mereka. Karena pengaruh Yang Kuat Dari Kelompok sosial Pada perkembangan moralische anak, Penting sekali jika Kelompok sosial, Tempat anak mengidentifikasikan dirinya mempunyai standar moralische Yang sesuai dengan Kelompok sosial Yang Lebih besar dalam masyarakat. 2.5 Implikasi Perkembangan Peserta Didik Terhadap Pendidikan Manusia pada umumnya berkembang sesuai dengan tahapan-tahapannya. Perkembangan tersebut dimulai sejak masa konsepsi hingga akhir hayat. Ketika individu memasuki usia sekolah, yakni antara Tujuh sampai dengan dua belas tahun, individu dimaksud sudah dapat disebut sebagai peserta Didik yang akan berhubungan dengan proses pembelajaran dalam Suatu sistem Pendidikan. Cara pembelajaran Yang diharapkan Harus sesuai dengan tahapan pro-Kembangan anak, yakni memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) programnya disusun Secara Fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan perbedaan individuelle anak (2) tidak dilakukan Secara Monoton, tetapi disajikan Secara variatif melalui banyak Aktivitas dan (3) melibatkan penggunaan berbagai medien dan sumber belajar sehingga memungkinkan anak terlibat secara penuh dengan menggunakan berbagai proses perkembangannya (Amin Budiamin, dkk 2009: 84). Aspek-Aspek perkembangan peserta Didik Yang berimplikasi terhadap proses Pendidikan melalui karakteristik perkembangan moralische dan religi Akan diuraikan seperti di bawah ini. 1. Implikasi Perkembangan Moral Purwanto (2006: 31) berpendapat, moralische bukan hanya memiliki arti bertingkah laku sopan santun, bertindak dengan lemah lembut, dan berbakti kepada orang tua saja, melainkan Lebih luas lagi Dari itu. Selalu berkata jujur, bertindak konsekuen, bertanggung Jawab, cinta bangsa dan Sesama Manusia, mengabdi kepada rakyat dan negara, berkemauan keras, berperasaan Halos, dan sebagainya, termasuk pula ke dalam moralische Yang Perlu dikembangkan dan ditanamkan dalam hati Sanubari anak-anak. Adapun perkembangan moralische menurut Santrock yaitu perkembangan Yang berkaitan dengan aturan mengenai hal Yang seharusnya dilakukan oleh Manusia dalam interaksinya dengan orang gelegen (Desmita, 2008: 149). Perkembangan moralische anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, salah satunya melalui Pendidikan langsung, seperti diungkapkan oleh Yusuf (2005: 134). Pendidikan Sprachen yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar-salah atau baik-buruk oleh orang tua dan gurunya. Selanjutnya masih menurut Yusuf (2005: 182), pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mengikuti tuntutan Dari orang tua atau Lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini, anak dapat memahami alasan yang mendasari suatu bentuk perilaku dengan konsep baik-buruk. Misalnya, dia memandang bahwa peruanischen nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua merupakan suatu hal yang baik. Selain pemaparan di atas, Piaget (Hurlock, 1980: 163) memaparkan bahwa usia antara lima sampai dengan dua belas tahun konsep anak mengenai moralische sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan salah yang dipelajari dari orang tua, menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moralisch. Misalnya bagi anak usa lima tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan. Oleh karena esu, berbohong tidak selalu buruk. Selain lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan juga menjadi wahana yang kondusif bagi pertumbuhan als perkembangan moralische peserta didik. Untuk itu, sekolah diharapkan dapat berfungsi sebagai Kawasan Yang Sejuk untuk melakukan sosialisasi bagi anak-anak dalam Pengembangan moralische dan segala Aspek kepribadiannya. Pelaksanaan pendidikan moralische kelas hendaknya dihubungkan dengan kehidupan yang ada di luar kelas. Dengan demikian, perkembangan pembinaan moralische peserta Didik sangat Penting karena percuma saja jika mendidik anak-anak hanya untuk Menjadi orang yang berilmu pengetahuan, tetapi jiwa dan wataknya tidak dibangun dan Dibina. 2. Implikasi Perkembangan spirituelle Anak-Anak sebenarnya telah memiliki dasar-dasar kemampuan spirituelle yang dibawanya sejak lahir. Untuk mengembangkan kemampuan ini, pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, untuk melahirkan Manusia Yang ber-SQ tinggi dibutuhkan Pendidikan Yang tidak hanya berorientasi Pada perkembangan Aspek IQ saja, melainkan EQ dan SQ juga. Zohar dan Marshall (Desmita, 2008: 174) pertama kali meneliti Secara ilmiah tentang kecerdasan geistig, yaitu kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan Makna dan nilai, yang menempatkan perilaku dan hidup Manusia dalam Konteks Makna Yang Lebih luas dan kaya. Purwanto (2006: 9) mengemukakan bahwa pendidikan yang dilakukan terhadap manusia bergeda dengan 8220pendidikan8221 yang dilakukan terhadap binatang. Menurutnya, pendidikan pada manusia tidak terletak pada perkem-bangan biologis saja, yaitu yang berhubungan dengan perkembangan jasmani. Akan tetapi, pendidikan pada manusia harus diperhitungkan pula perkembangan rohaninya. Itulah kelebihan manusia yang diberikan von Allah Swt. Yaitu dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal penciptanya, yang membedakan antara manusien dengan binatang. Fitrah ini berkaitan dengan aspek spirituell. Berkaitan dengan perkembangan geistige Yang membawa banyak implikasi terhadap Pendidikan, diharapkan Muncul Manusia Yang Benar-Benar utuh Dari Lembaga-Lembaga Pendidikan. Untuk itu, pendidikan agama nampaknya harus tetap dipertahankan sebagai bagan penting dari programm-programm pendidikan yang diberikan di sekolah dasar. Tanpa melalui pendidikan agama, mustahil sq dapat berkembang baik dalam diri peserta didik. 3.1 Analisis Teoretis USIA transisi Yang dialami remaja cenderung membawa dampak psikologis disamping membawa dampak fisiologis, dimana perilaku Mereka cenderung berfikir pendek dan ingin cepa dalam memecahkan berbagai permasalahan kehidupan. Namun, tidak sedikit jalan yang ditempuh adalah jawan yang sesat dan mengandung risiko. Karena proses berfikir seperti itu, remaja tidak Mampu lagi membedakan hal baik dan hal buruk untuk dijadikan acuan prilaku Yang sesuai dengan perintah dan larangan Agama Yang dianutnya. Selain itu remaja cenderung menutupi eksistensi kehidupannya dengan mengabaikan AJARAN Agama Yang dianutnya dan nilai normatif Yang ditanamkan Pada dirinya dalam menyelesaikan persoalan. Dengan kondisi prilaku remaja tersebut, seringkali mereka mengalami kegagalan dalam menjalani pemulihan dan tidak mampu lagi membankitkan kesadaran geistig. Sesungguhnya, kesadaran dan kekuatan geistige Akan diperoleh jika remaja mendekatkan dirinya dengan ketaatan dan amaliyah ibadah kepada Tuhannya Ketika dihadapkan Pada berbagai persoalan hidupnya. Hubungan spirituelle manusia dengan Rabbnya ketika beribadah akan memunculkan kekuatan spirituellen berupa limpahan Illahiah atau ketikan spirituellen berupa al-hikmah. Tekadnya Bertambah Kuat, kemauannya Semakin keras, dan semangatnya kian meningkat sehinga ia pun Lebih memiliki kesiapan untuk menerima ilmu pengetahuan atau hikmah (Najati, 2005: 456) Hikmah merupakan Karunia Allah berupa pemahaman ma8217rifat Allah. Hikmah dapat menambah kemuliaan atau mengangkat (derajat) manusia sebagai hamba-Nya. Pemiiknya akan mencerminkan ciri-ciri fur Nabi yang ada pada mereka. Hikmah Yang milikinya Akan menuntun dirinya kepada kemaslahatan Yang tepat dalam melaksanakan semua Aktivitas dan perbuatan sehari-hari sehingga Mampu mencegah dan menjaga Diri Dari akhlak-akhlak Yang tidak diridhoi-Nya. Karena itu hikmah tidak dianugerahkan kedapa setiap orang, Akan tetapi terlahir Dari sejumlah faktor dan Sebab Yang merupakan Fadhilah dan Nikmat Dari Allah. Faktor meraih hikmah ialah, meliputi: Berdasarkan ilmu syariat c. Syukur dan sabar dan d. Berdoa dan tawakal Sedangkan faktor penghalang ibadah meliputi: c. Kesombongan dan d. Keras dan kasar (Nashir, 1995: 19) 3.2 Analisis Praktis Kajian Yang dilaksanakan terhadap sebuah pembalajaran Yang berguna untuk meneliti struktur atau Tingkat kesulitan Dari pembelajaran Yang disajikan dengan cara Mendalam, Sederhana, tidak rumit dan mudah dilakukan atau dilaksanakan. Tidak hanya menganalisis masalah Materi pembelajaran saja tapi meliputi karakteristik Dari peserta Didik misalnya sikap sopan santun, meberi salam, dan Saling tegur sapa di dalam proses pembelajaran maupun diluar Marmelade Pelajaran. Saling menghormati antar peserta didik danischen pengajar maupun antar peserta didik. Selige itu bekali nilai-nilai religi memperdalam Agama dan kepercayaan masing-masing Agar Terbentuk Akhlak Dan Periaku Yang Bai Pada Peserta Didik. Tujuan Dari analisis Praktis dalam perkembangan peserta Didik untuk menelaah dan mengetahui karakteristik dan masalah Yang dihadapi perserta Didik Yang Perlu diangkat dalam Pengembangan pangkat pembelajaran. Nasihat Yang diberikanpun bukan sekedar proses memberikan pertolongan dan sosial saja Sprachwerkzeuge, tetapi juga Harus merujuk dengan Maha Penciptanya, yakni Allah swt. Nasihat Yang diberikan diarahkan untuk mengembalikan keimanan dan ketakwaan serta religius, yang akan membawa Pada eksistensi dirinya dan dapat menemukan citra dirinya, sesuai dengan kebenaran Yang Hakiki dan kemenangan Yang abadi untuk meraih kebahagiaan kehidupan Yang hakiki. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ??Perkembangan religius remaja tergantung bagaimana als apa yang diperolehnya sejak masa anak-anak. Um...................................................... Begitu pula sebaliknya, apabila terdapat banyak kerancuan pemahaman terhadap keagamaan, maka perkembangan religiosen remaja tersebut akan terganggu. Pada masa remaja, keagamaan sama pentingnya dengan moralisch. Karakteristik perkembangan moralische dan religi Pada peserta Didik sangat Penting diterap dalam lingkup Pendidikan mengingat perkembangan zaman dan moderenisasi Yang membuat moralische generasi Muda Semakin terperosok. Oleh karena itu kami Mitgliedschaft rekomendasi untuk beberapa pihak terkait masalah ini. 4.2.1 Untuk Dosen aturischer Guru Guru berperan tidak hanya memberikan pendidikan dalam bidang akademis saja namun juga mendidik dalam membentuk kepribadian anak. Maka dari itu diperlukan metode mengajar yang tidak monoton. Perlu adanya dorongan motivasi pada anak juga paparan mengenai tindakan-tindakan yang baik dalam bentuk cerita. Menghukum anak terlalu berat Wortspiel berpotensi anak semakin tidak suka pada mata pelajaran yang diajarkan bahkan pada sosok guru tersebut. 4.2.2 Untuk Orang tua Lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam perkembangan moralisch geistig anak. Untuk itu perlu diciptakan kehidupan keluarga yang harmonis mengingat anak akan selal merekam apa yang terjadi dalam keluarganya. Disini peran orang tua sangat dibutuhkan karena tingkah laku orang tua merupakan cerminischen dari prilaku anaknya kelak. Un................................................................. Baharuddin 2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Medien Baharuddin 2009. Psikologi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Medien Hartono, Agung.2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta ISSN 1411-5026. (2010).Jahrlicher Bimbingan dan Konseling. Pengurus Besar Asosisi Bimbingan dan Konseling Indonesien (ABKIN): Bandung Syamsuddin, Abin.2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya Yusuf, Syamsu.2011.Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rajawali PersJelaskan Yang dimaksud dengan etika Bisnis Bagaimana penerapan etika Bisnis oleh pengusaha dan Perusahaan Yang Saudara pilih Jelaskan hubungan antara etika dan hukum Bagaimana manfaat etika Bisnis bagi seorang pengusaha Berikan contoh Pada pengusaha dan Perusahaan yang Saudara pilih Bagaimana dampak negativ bila pengusaha tidak menjalankan Usaha sesuai dengan etika Bisnis Berikan contoh pada pengusaha dan Perusahaan yang Saudara pilih Jelaskan yang dimaksud dengan tanggung Jawab soziale Apakah Perusahaan Saudara menjalankan tanggung Jawab soziale Jelaskan Bagaimana strategi bentuk tanggung Jawab sozialen Bagaimana hubungan antara etika Bisnis dan keputusan Bisnis Berikan contoh pada pengusaha dan Perusahaan yang Saudara pilih Jelaskan Tantangan pelaksanaan tanggung Jawab soziale Berikan contoh pada pengusaha dan Perusahaan yang Saudara pilih Berikan etika Bisnis yang diterapkan untuk Usaha yang Saudara jalankan Berikan kegiatan tanggung Jawab sozialen yang sesuai dengan Usaha yang Saudara jalankan 1. Etika Bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan Bisnis, yang mencakup seluruh Aspek yang berkaitan dengan individu, Perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam Suatu Perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan Yang adil dan sehat dengan pelanggan / Mitra kerja, pemegang saham, masyarakat. Perusahaan meyakini prinsip Bisnis Yang baik adalah Bisnis Yang beretika, yakni Bisnis dengan kinerja Unggul dan berkesinambungan Yang dijalankan dengan mentaati kaidah-kaidah etika sejalan dengan hukum dan peraturan Yang berlaku. 2. Dalam Perusahaan Yang Saya pilih penerapan etika bisnisnya terlihat bagaimana sikap Yang santun antara atasan dan karyawan begitu juga sebaliknya sehingga dapat membentuk Suatu hubungan Yang baik didalam Suatu Perusahaan dan menjunjung tinggi interaksi dan Komunikasi Yang baik. 3. Etika berhubungan dengan perilaku manusia. Manusia itu yakin dan wajib berbuat baik dan menghindari Yang jahat. Oleh karena itu dalam etika mempermasalahkan hal-hal seperti: apakah Yang disebut baik itu, apakah Yang buruk itu, apakah ukuran baik dan buruk itu, apakah suara batin itu, mengapa orang terikat Pada Kesusilaan. Arti menurut bahasa, etika dibedakan artinya dengan moral (Kamus Besar Bahasa Indonesien). Etika merupakan: 1). Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, serta hak dan kewajiban moralische (akhlak) 2) Kumpulan Asen atau nilai Yang berkenaan dengan akhlak 3) nilai mengenai Benar dan salah Yang dianut oleh Suatu golongan atau masyarakat. Sedangkan moralische berarti: 1) AJARAN tentang baik buruk Yang diterima Umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya 2) - kondisi geistige Yang membuat orang Berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin - isi hati atau keadan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan. 4. Manfaat Etika Bisnis taschen Perusahaan: Dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan, karena etika telah dijadikan sebagai Unternehmenskultur. Hal ini terutama penting bagi perusahaan besar yang karyawannya tidak semuanya saling mengenal satu sama lainnya. Dengan adanya etika Bisnis, Secara intern semua karyawan terikat dengan Standard ETIS Yang Sama, sehingga Akan mefigambil kebijakan / keputusan Yang sama terhadap kasus sejenis Yang Timbul. Dapat membantu menghilangkan grauen Bereich (kawasan kelabu) dibidang etika. (Penerimaan komisi, penggunaan tenaga kerja anak, kewajiban perusahaan dalam melindingi lingkungan hidup). Menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya. Menyediakan bagi perusahaan dan dunia bisnis pada umumnya, kemungkinan untuk mengatur diri sendiri (Selbstregulierung). Bagi perusahaan yang telah gehen publik dapat memperoleh manfaat berupa meningkatnya kepercayaan para Investor. Es ist dir nicht erlaubt, Anhange hochzuladen. Es ist dir nicht erlaubt, deine Beitrage zu bearbeiten. BB-Code ist an. Smileys sind an. Dapat meningkatkan daya saing (Wettbewerbsvorteil) perusahaan. Membangun Unternehmen image / citra positif. Serta dalam jangka panjang dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan (nachhaltiges Unternehmen). Etika Bisnis perusahhan memiliki peran Yang sangat Penting, yaitu untuk membentuk Suatu Perusahaan Yang Kokoh dan memiliki dsaya saing Yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai Yang tinggi, diperlukan Suatu landasan Yang Kokoh. 5. bila sebuah Perusahaan tidak menjalankan etika bisnisnya dengan baik dampak negatifnya tentu banyak sekali yakni Akan berakibat bangkrut dan tidak ada pelanggan yang akan percaya kepada Prodak / jasa Yang Perusahaan jalankan serta jeleknya Bild Perusahaan. 6. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (selanjutnya dalam artikel Akan disingkat CSR) adalah Suatu konsep bahwa Organisasi. Khususnya (namun bukan hanya) Ubersetzung (en) tabellarisch anzeigen | Karyawan Pemegang saham Komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operieren perusahaan. 7. Ada beberapa alasan mengapa sebuah perusahaan memutuskan untuk menerapkans CSR sebagai sacker dari aktifitas bisnisnya, yakni Moralitas. Perusahaan harus bertanggung jawab kepada banyak pihak yang berkepentingan terutama terkait dengan nilai-nilai moralischen dan keagamaan yang dianggap baik oleh masyarakat. Hal tersebut bersifat tanpa mengharapkan balas jasa. Pemurnian Kepentingan Sendiri. Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap pihak-pihak yang berkepentingan karena pertimbangan kompensasi. Perusahaan berharap akan dihargai karena tindakan tanggung jawab mereka baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Teori Investasi. Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder karena tindakan yang dilakukan akan mencerminkan kinerja keuangan perusahaan. Mempertahankan otonomi. Perusahaan harus bertanggung jawab terhadap stakeholder untuk menghindari campur tangan kelompok-kelompok yang ada didalam lingkungan kerja dalam pengambilan keputusan manajemen. 5. Dimensi Moral dalam Pengambilan Keputusan Bisnis 6. Terlepas dari rumitnya hubungan etika bisnis dengan ekonomi dan hukum, bisnis adalah organisasi ekonomi yang tidak hanya menjalankan kegiatannya berdasarkan aturan-aturan hukum yang berlaku, tetapi juga norma-norma etika yang berlaku di masyarakat. 7. Bahkan dapat dikatakan, bahwa seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya bisnis yang bertanggung jawab sosial, etika merupakan dimensi sangat penting yang harus selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan bisnis. 8. Cakupan Etika Bisnis 1. Isu-isu yang dicakup oleh etika bisnis meliputi topik-topik yang luas. Isu-isu ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 dimensi atau jenjang, yaitu: (1) sistemik, (2) organisasi, dan (3) individu. 2. Isu-isu sistemik dalam etika bisnis berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul mengenai lingkungan dan sistem yang menjadi tempat beroperasinya suatu bisnis atau perusahaan: ekonomi, politik, hukum, dan sistem-sistem sosial lainnya. 3. Isu-isu organisasi dalam etika bisnis berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan etika tentang perusahaan tertentu. 4. Sementara itu, isu-isu individu dalam etika bisnis menyangkut pertanyaan-pertanyaan etika yang timbul dalam kaitannya dengan individu tertentu di dalam suatu perusahaan. 5. Manajemen beretika, yakni bertindak secara etis sebagai seorang manajer dengan melakukan tindakan yang benar (doing right thing). Manajemen etika adalah bertindak secara efektif dalam situasi yang memiliki aspek-aspek etis. Situasi seperti ini terjadi di dalam dan di luar organisasi bisnis. Agar dapat menjalankan baik manajemen beretika maupun manajemen etika, para manajer perlu memiliki beberapa pengetahuan khusus. 9 9. Tantangannya ialah dimana kita harus tetap bisa menjaga kepuaasan dan kepercayaan konsumen terhadap perusahaan dan pelayanan masyarakat itu merupakan hal yang terpenting bagi berjalan atau tidaknya suatu perusahaan. 110. Etika bisnis perusahaan analisis lingkungan mikro dan makro serta konsep Amati Tiru serta Modifikasi yang menjadi diferensiasi dengan bisnis seje nis. 111. Contoh tanggung jawab sosial apabila suatu perusahaan yang kegiatan bisnisnya menyangkut hidup orang banyak maka perlu legalitas bisnis dilingkungan setempatManusia adalah makhluk sosial, maka ia melakukan interaksi sebagai tuntutan alam. Manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dalam suasana yang terisolasi. Dengan kata lain, manusia senantiasa membutuhkan bantuan manusia lain. Hukum sebagai sesuatu yang berkenaan dengan manusia, maka hubungan manusia dengan sesama manusia lainnya ada dalam suatu pergaulan hidup. Sebab tanpa pergaulan hidup tidak akan ada hukum ( ibi societas ibi ius, zoon politicon ). Hukum berfungsi untuk mengatur hubungan pergaulan antara manusia. Tetapi tidak semua perbuatan manusia itu memperoleh pengaturannya. Hanya perbuatan atau tingkah laku yang diklasifikasikan sebagai perbuatan hukum saja yang menjadi perhatian. (Lili Rasjidi, 1982:8) Hubungan hukum itu terdiri dari ikatan-ikatan antara individu dengan individu dan antara individu dengan masyarakat. Dalam usahanya mengatur, hukum menyesuaikan dengan kepentingan masyarakat secara baik. Sebagai kumpulan peraturan atau kaedah, hukum mempunyai isi yang bersifat umum dan normatif, umum karena berlaku bagi setiap individu atau setiap orang, normatif karena menentukan apa yang seyogyanya dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, serta menentukan bagaimana cara melaksanakan kepatuhan pada kaedah-kaedah. Kaedah hukum bertujuan untuk melindungi kepentingan manusia sebagai makhluk sosial. Karenanya kaedah tersebut harus ditaati, harus dilaksanakan dan dipertahankan, tapi bukannya dilanggar. Melakukan pelanggaran terhadap kaedah hukum dinilai buruk, sebaliknya patuh terhadap kaedah itu adalah baik. Olehnya itu kaedah hukum dpat juga disebut sebagai kaedah etis. (Sudikno Mertokusumo,1991:36) Etika itu menyelidiki segala perbuatan manusia kemudian menetapkan hukum baik atau buruk, tetapi bukanlah semua perbuatan itu dapat diberi hukum, sebagaimana perbuatan manusia itu ada yang timbul tanpa kehendaknya seperti bernapas, denyut jantung dan memicingkan mata dengan tiba-tiba. Ada pula perbuatan manusia yang timbul karena kehendak dan setelah dipikir masak-masak akan hasil dan akibatnya, sebagaimana orang yang melihat pembangunan rumah sakit yang dapat memberi manfaat kepada orang banyak untuk meringankan penderitaan yang sakit, kemudian ia lalu bertindak untuk membangun rumah sakit itu. Begitu pula jika ada orang bermaksud akan membunuh musuhnya, lalu memikirkan cara-caranya dengan pikiran yang tenang, kemudian ia melakukan apa yang ia kehendaki. Inilah perbuatan yang disebut perbuatan kehendak, yang dapat diberi hukum baik atau buruk. (Ahmad Amin,1995:3) Jadi etika sebagai usaha manusia untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk terhadap perbuatan yang dilakukan. Karena dengan mengetahui nilai baik dan buruk itu, sehingga manusia terdorong untuk melakukan perbuatan berdasarkan nilai itu tadi. Jika di dalam suatu masyarakat tertanam nilai kebaikan pada masing-masing individu, maka nilai tersebut akan tercermin dalam perilakunya dengan melakukan perbuatan baik, sehingga akan menjadi etika pada masing-masing individu tersebut. Suatu ketika yang sudah tertanam kuat dalam masyarakat akan memudahkan untuk menciptakan suatu kaedah, sehingga kedamaian dapat diwujudkan. B. Rumusan Masalah Bertitik tolak dari latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu 1. Apakah hukum itu. A. Pengertian Hukum Untuk memperoleh gambaran mengenai defenisi hukum sangatlah sulit, tetapi bukan berarti tidak perlu membuat suatu defenisi hukum. Menurut Achmad Ali (2002:9-10) bahwa hukum merupakan sesuatu yang luas dan abstrak, hukum terlalu luas aspeknya, meskipun dalam manifestasinya bisa berwujud konkrit. Penggunaan defenisi hukum lebih banyak tergantung pada aspek mana hukum itu dipandang. Sehubungan dengan hal tersebut, Rusli Effendy dkk (1991:6) mengutip pendapat Immanuel Kant menyatakan bahwa 8220 noch suchen die juristen eine definition zu ihrem begriffe von recht 8221 artinya, tidak ada seorang jurispun yang dapat memberikan defenisi hukum secara tepat. Kedua pernyataan pakar tersebut, memberikan isyarat bahwa betapa hukum itu sulit untuk diberikan defenisi. Akan tetapi, sebagai suatu pegangan untuk kelengkapan berbagai defenisi hukum, maka dapat diambil pendapat beberapa pakar. Hans Kelsen mendefenisikan hukum sebagi suatu perintah memaksa terhadap tingkah laku manusia, jadi hukum adalah kaidah primer yang menetapkan sanksi-sanksi. Pandangan ini sangat mencerminkan ciri positivisnya, Kelsen melihat hukum positif sebagai satu-satunya hukum, karena memisahkan dari segala pengaruh anasir-anasir non hukum seperti moral, politis, ekonomis, sosiologis, dan sebagainya. Pandangan semacam ini tidak relevan lagi dalam masa modern ini. (Achmad Ali,2002:29) Emmanuel Kant mendefenisikan hukum sebagai suatu keseluruhan kondisi-kondisi di mana terjadi kombinasi antara keinginan-keinginan pribadi seseorang dengan keinginan-keinginan pribadi orang lain sesuai dengan hukum umum mengenai kemerdekaan. Defenisi Kant tidak memisahan antara hukum dan kaidah sosial lainnya. Jika hanya sekedar kondisi yang menciptakan kombinasi keinginan pribadi seseorang dengan pribadi lainnya maka kondisi seperti itu juga mampu diciptakan oleh kaedah sosial lainnya seperti moral, kesopanan dan agama. (Ibid:27) Jadi defenisi tersebut, lebih ditekankan pada aspek kepatuhan dan pembatasan terhadap kehendak bebas dengan berdasar pada seperangkat peraturan. Dengan kata lain, penekanannya terletak pada aspek ketaatan. E. Utrecht memberikan pula defenisi hukum yaitu himpunan petunjuk hidup perintah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat yang bersangkutan, dan akibat pelanggaran dari petunjuk hidup tersebut dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa masyarakat itu. Dari defenisi ini Utrecht memandang hukum tidak sekedar kaedah, melainkan juga sebagai gejala sosial dan sebagai kebudayaan. (Ibid:32) Defenisi ini penekanannya terletak pada aspek kemanfaatan berupa jaminan ketertiban pada warga masyarakat sebagai suatu komunitas. Leon Duguit mendefenisikan hukum yang merupakan tingkah laku masyarakat, sebagai aturan yang daya penggunaannya pada saat tertentu diindahkan oleh warga masyarakat sebagai jaminan dari kepentingan bersama terhadap orang yang melakukan pelanggaran. (Ibid:22) Sedang Grotius mendefenisikan 8220 law is a rule of moral action obliging to that wich is right 8221(Ibid:27) (Hukum adalah peraturan tentang tindakan moral yang menjamin keadilan). Kedua defenisi tersebut, menunjukkan terhadap penekanan berupa jaminan keadilan. Curzon (1979:140) mendefenisikan hukum yakni, 8220 Law is the sum of the conditions of social life in the widest sense of the term, as secured by the power of the states through the means of external compulsion 8221 (Hukum adalah sejumlah kondisi kehidupan sosial dalam arti luas, yang dijamin oleh kekuasaan negara melalui cara paksaan yang bersifat eksternal). Sejalan dengan hal tersebut, Achmad Ali (2002:35) cenderung melihat hukum sebagai seperangkat kaedah atau aturan yang tersusun dalam suatu sistem, yang berisikan petunjuk tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh manusia sebagai warga masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, yang bersumber baik dari masyarakat sendiri maupun dari sumber lain, yang diakui berlakunya oleh otoritas tertinggi dalam masyarakat tersebut, serta benar-benar diberlakukan oleh warga masyarakat (sebagai suatu keseluruhan) dalam kehidupannya, dan jika kaedah tersebut dilanggar akan memberikan kewenangan bagi otoritas tertinggi untuk menjatuhkan sanksi yang sifatnya eksternal. Bagi kalangan Muslim, yang dimaksudkan sebagai hukum adalah hukum Islam, yaitu keseluruhan aturan hukum yang bersumber dari Al-Quran, dan dalam kurun waktu tertentu lebih dikonkritkan oleh Rasulullah Muhammad SAW dalam tingkah laku beliau, yang biasa disebut Sunnah Rasul. Kaedah-kaedah yang bersumber dari Allah SWT kemudian lebih dikonkritkan dan diselaraskan dengan kebututhan zamannya melalui ijtihad atau penemuan hukum oleh para mujtahid dan pakar pada bidangnya masing-masing. Seperti Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazzali berpendapat bahwa 8220Fiqhi itu bermakna faham dan ilmu. Namun pada uruf ulama telah menjadi sesuatu ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara yang tertentu bagi perbuatan-perbuatan para mukallaf, seperti wajib, haram, mubah, sunnat, makruh, shahih, fasid, bathil, qadla, ada dan sepertinya8221. (Ibid:33-34) Begitu pula oleh Ahmad Zaki Yamani memberikan pengertian syariat Islam secara luas dan sempit. Syariat Islam secara luas yaitu meliputi semua hukum yang telah disusun dengan teratur oleh para ahli fiqhi dalam pendapat-pendapatnya tentang persoalan di masa mereka, atau yang mereka perkirakan akan terjadi kemudian, dengan mengambil dali-dalil langsung dari Al-Quran dan Al-Hadits, atau sumber pengambilan hukum seperti ijma, qiyas, istihsan, isitish-shab dan mashalih mursalah. Sedang syariat Islam secara sempit adalah terbatas pada hukum-hukum yang berdalil pasti dan tegas, yang tertera dala Al-Quran dan Hadits shaheh atau ditetapkan dengan Ijma.(Ibid:34) Berdasarkan dengan beberapa pendefenisian hukum tersebut, maka dapat dikatakan bahwa hukum merupakan persoalan suruhan dan larangan, baik secara lahiriyah maupun bathiniyah, sehingga kalau suruhan itu dilaksanakan tentu mendapat hadiah/pahala, dan jika larangan dilakukan tentu mendapat sanksi/ganjaran. Dasarnya Al-Quran Surah An-Nisa ayat (59) yang maksudnya: 8220Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan orang-orang yang berkuasa di antara kamu, jika di antaramu ada perbedaan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya. Dengan demikian itu, bahwa terjadinya perbedaan di antara para pakar tentang pendefenisian hukum disebabkan oleh perbedaan sudut pandang. Betapa luas aspek hukum sehingga menimbulkan beragam defenisi yang luas cakupannya. Hukum terkadang dipandang dari sudut sosiologi, hukum biasanya ditinjau dari aspek kesejarahan, serta hukum adakalanya dilihat dari segi filsafat, dan dari segi agama. B. Pengertian Etika Pada kehidupan manusia terentang dalam suatu jaringan norma-norma yang berupa larangan, pantangan, kewajiban-kewajiban dan lain sebagainya. Norma-norma itu terdiri atas norma-norma tehnis, norma sopan santun, norma hukum, norma moral dan norma-norma keagamaan (A. Gunawan Setiardja,1990:90). Norma-norma itulah yang menjadi kekuatan normatif untuk diperhitungkan dan dipijakinya dalam kehidupan dan pencarian pemenuhan kebutuhan hidup antar manusia. Rumusan tersebut kemudian ditarik dalam sebuah defenisi inti bernama 8220moral8221 (etika). Orang tinggal menyebut seseorang yang melanggar hukum dengan julukan sebagai penjahat atau pelecehan moral hukum. Seperti seseorang yang melakukan perzinaan maka dapat disebut sebagai pelanggar moral keagamaan. Juga seseorang yang melakukan satu jenis pelanggaran dapat disebut sebagai pelanggar sekian macam kaedah moral. Kemudian jika seseorang berbicara tentang hal-hal yang baik, hidup teratur, bekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan, tidak melanggar aturan main, maka hal itu sudah masuk dalam studi mengenai bagaimana hidup yang berlandaskan etika dan bagaimana hidup yang disebut melanggar etika. (Abdul Wahid,1997:2) Bertens mengemukakan bahwa, 8220etika8221 berasal dari bahasa Yunani kuno 8220 ethos 8221 dalam bentuk tunggal yang berarti adat kebiasaan, adat isitadat dan akhlak yang baik. Bentuk jamak dari 8220 ethos 8221 adalah 8220 ta etha 8221 artinya adat kebiasaan. Dari bentuk jamak tersebut, terbentuklah istilah 8220etika8221 yang oleh filsuf Yunani Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Berdasarkan asal usul kata 8220etika8221 ini, maka diartikan ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. (Abdulkadir Muhammad, 2001:13) W. J.S. Poerwadarminta (1999:278) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). Pandangan ini selain menyamakan antara etika dengan moral, juga menyamakan etika dengan akhlak, yang dalam etika Islam dikategorikannya pada dua akhlak, yaitu akhlak yang baik disebut 8220 akhlaqul mahmudah 8221 dan akhlak yang berkaitan dengan perilaku buruk disebut 8220 akhlaqul madzmumah 8221. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan,1989:237) merumuskan pengertian etika dalam tiga arti yaitu: 1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) 2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak dan 3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Inu Kencana Syafiie (1994:1) menjelaskan bahwa etika sama artinya dengan kata Indonesia 8220kesusilaan8221 yang terdiri dari bahasa sansekerta 8220su8221 berarti baik, dan 8220sila8221 berarti moral kehidupan. Jadi etika menyangkut kelakuan yang menuruti norma-norma yang baik. Pengertian ini menempatkan etika sebagai seperangkat norma dalam kehidupan manusia yang tidak berbeda dengan norma-norma kesusilaan. E. Sumaryono (1995:12) menjelaskan pula pengertian etika yaitu berasal dari istilah bahasa Yunani ethos yang mempunyai arti adat istiadat atau kebiasaan yang baik. Bertolak dari pengertian ini kemudian etika berkembang menjadi studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya. Selain itu, etika juga berkembang menjadi studi tentang kebenaran dan ketidak benaran berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan melalui kehendak manusia. Berdasarkan perkembangan arti tadi, etika dapat dibedakan antara etika perangai dan etika moral. Etika perangai adalah adat istiadat atau kebiasaan yang menggambarkan perangai manusia dalam hidup bermasyarakat di daerah-daerah tertentu, seperti berbusana adat, upacara adat, perkawinan semenda dan sebagainya. Sedang etika moral adalah yang berkenaan dengan kebiasaan berperilaku baik dan benar berdasarkan kodrat manusia, hal ini terwujud dalam bentuk kehendak manusia berdasarkan kesadaran berupa suara hati nurani, seperti berbuat jujur, menghormati guru, menyantuni anak yatim, membela kebenaran dan keadilan serta banyak lagi yang lain. (Abdulkadir Muhammad,2001:15) Hamzah Yakub (1983:13) merumuskan bahwa, etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk serta memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran. Sudikno Mertokusumo (1991:36) merumuskan pula pengertian etika yaitu usaha manusia untuk mencari norma baik dan buruk. Etika diartian juga sebagai 8220 the principles of morality 8221 atau 8220 the field of study or morals or right conduct 8221. Secara lebih sederhana dapatlah dikatakan bahwa etika adalah filsafat tingkah laku atau filsafat mencari pedoman untuk mengetahui bagaimana manusia bertindak yang baik atau etis. Pendapat E. Wayne Mondy dan Robert M. Noe tentang etika yang dikutif oleh Moekijat (1995:6) menyatakan bahwa 8220 ethics is the discipline with is good and bad or right and wrong or with moral duty and obligation 8221. Etika adalah suatu disiplin (keadaan pengendalian diri sendiri dan tingkah laku) yang berkaitan dengan apa yang baik dan buruk atau dengan apa yang benar dan apa yang salah atau dengan hak dan kewajiban moral. Pandangan Sudarsono (1993:188) tentang etika yaitu ilmu yang membahas tentang perbuatan manusia baik atau buruk sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Etika disebut juga akhlak atau disebut pula moral. Imam Al-Gazali (tt:56) mendefenisikan etika (akhlak) dengan. Artinya: 8220Kebiasaan jiwa yang terpatri dalam diri manusia yang dengannya dapat menimbulkan berbagai tingkah laku (perbuatan), tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan8221. Mencermati dari sekian rumusan tentang etika (moral), maka dapat dikatakan bahwa etika itu suatu studi dan panduan tentang perilaku yang harus dikerjakan atau sebaliknya tidak dilakukan oleh manusia. Apa yang disebut sebagai perbuatan baik atau buruk dijadikannya sebagai muatan secara umum dari etika. Etika merupakan pandangan hidup dan pedoman tentang bagaimana orang itu seyogyanya berperilaku. Etika yang berasal dari kesadaran manusia merupakan petunjuk tentang perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk. Etika juga merupakan penilaian atau kualifikasi terhadap perbuatan seseorang dan atau merupakan nilai moralitas yang sesuai dengan standar moral dan nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan masyarakat. Dengan demikian itu, etika adalah studi tentang kebenaran dan ketidak benaran yang didasarkan atas kodrat manusia, yang bermanifestasi di dalam kehendak manusia. Nilai-nilai moral yang dikembangkan dengan maksud untuk memungkinkan adanya kehendak bebas. Nilai-nilai tersebut juga terwujud secara nyata di dalam setiap kontak antar individu dalam pelaksanaan kewajiban dan kesadaran masing-masing individu sehingga norma-norma moral yang berlaku selalu mendapatkan perhatian dan pembahasan dalam segala situasi yang melingkari hidup manusia. Jadi ajaran etika paralel dengan ajaran moral, yang mengajarkan orang supaya setiap berkomunikasi bersikap jujur, sopan dan berakhlak, saling hormat-menghormati dan saling toleransi dalam arti yang positif. C. Hubungan Antara Hukum Dan Etika Interaksi antar individu dalam suatu masyarakat seringkali menimbulkan gesekan yang saling berbenturan. Oleh karena itu, diperlukan suatu tatanan dalam masyarakat yang mampu menciptakan keteraturan, ketertiban dan ketetntraman. Tatanan yang dimaksudkan adalah sebuah perangkat yang berisi petunjuk-petunjuk tingkah laku berupa kaedah hukum. Selain kaedah hukum terdapat pula beberapa kaedah dalam masyarakat yang diperlukan sebagai upaya untuk mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan. Purnadi Purbacaraka (1993:7-8) menjelaskan bahwa kaedah-kaedah itu sebagai patokan atau pedoman untuk hidup, namun hidup mempunyai dua aspek secara umum, yaitu aspek hidup pribadi dan aspek hidup antar pribadi. Setiap aspek hidup tersebut mempunyai kaedah-kaedahnya masing-masing yaitu: 1. Pada aspek hidup pribadi mencakup. ein. Kaedah-kaedah kepercayaan / keagamaan untuk mencapai kesucian hidup pribadi atau kehidupan ber-Iman. B. Kaedah-kaedah kesusilaan (moral/etika dalam arti sempit) yang tertuju pada kebaikan hidup pribadi atau kebersihan hati nurani dan akhlak. 2. Pada aspek hidup antar pribadi meliputi. ein. Kaedah-kaedah sopan santun yang maksudnya untuk kesedapan hidup b. Kaedah-kaedah hukum yang tertuju kepada kedamaian hidup bersama. Menurut Satjipto Rahardjo (1991:33) bahwa kaedah hukum memuat suatu penilaian mengenai perbuatan tertentu. Hal itu jelas tampak dalam bentuk suruhan dan larangan. Kaedah hukum ini diwujudkan dalam bentuk petunjuk bertingkah laku. Oleh karena itu kaedah hukum disebut juga petunjuk tingkah laku. Lebih lanjut dijelaskan bahwa hukum sebagai kebiasaan yang menjalani pelembagaan kembali untuk memenuhi tujuan yang lebih terarah dalam kerangka apa yang disebut hukum. Melalui pelembagaan itu digarap secara khusus sehingga memperoleh bentuk yang dapat dikelola secara hukum. Dalam suatu peristiwa yang belum ada kaedah hukumnya, maka pengadilan (lembaga yudikatif) tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili suatu perkara dengan alasan tidak ada hukumnya, (vide pasal 14 ayat (1) UU No.14 Tahun 1970) dan hal ini mungkin saja terjadi karena kaedah sosial yang non hukum ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, untuk menetapkan hukumnya terhadap peristiwa yang belum ada kaedah hukumnya, maka pengadilan dalam hal ini hakim harus merujuk kaedah-kaedah atau nilai-nilai hukum yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat. Olehnya itu hakim sebagai penegak hukum dan keadilan sekaligus sebagai pembentuk hukum, maka wajib baginya menggali dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat (vide pasal 27 ayat (1) UU No.14 Tahun 1970). Dengan demikian itu, dalam mewujudkan kedamaian dalam suatu masyarakat, muatan hukum berupa sebuah perangkat peraturan-peraturan dan petunjuk-petunjuk tingkah laku yang berisikan kaedah-kaedah kepercayaan/keagamaan, kaedah-kaedah kesusilaan, kaedah-kaedah kesopanan dan kaedah-kaedah hukum yang merupakan suatu keniscayaan. Sehubungan dengan hal tersebut, antara hukum dan etika adalah menyangkut perbuatan manusia dan tujuan keduanya hampir sama, yaitu mengatur perbuatan manusia untuk kebahagiaan mereka. Namun lingkungan etika lebih luas, etika memerintahkan berbuat apa yang berguna dan melarang berbuat segala apa yang mudharat. Sedang hukum tidak demikian, karena banyak perbuatan yang terang berguna tidak diperintahkan oleh hukum, seperti berbuat baik kepada fakir miskin, dan perlakuan baik kepada orang tua, demikian juga beberapa perbuatan yang mendatangkan kemudharatan tidak dicegah oleh hukum, umpamanya dusta dan dengki. Hukum tidak mencampuri hal ini, karena hukum tidak memerintahkan dan tidak melarang, kecuali apabila dapat menjatuhkani hukuman kepada orang yang menyalahi perintah dan larangan. Terkadang untuk melaksanakan suatu undang-undang itu hajat mempergunakan cara-cara yang lebih membahayakan kepada ummat, dari apa yang diperintahkan atau dicegah oleh undang-undang. Demikian pula ada beberapa keburukan yang samar-samar, seperti mengingkari nikmat dan berkhianat, dan ini undang-undang tidak sampai untuk menjatuhkan siksaan kepada pelakunya. Olehnya itu, tidak dapat jatuh di bawah kekerasan undang-undang dan keadaannya dalam hal itu bukan seperti pencurian dan pembunuhan. Perbedaan lainnya adalah bahwa hukum melihat segala perbuatan dari jurusan hasil atau akibatnya yang lahir, sedang etika menyelami gerak jiwa manusia yang bathin dan meskipun tidak menimbulkan perbuatan lahir. etika juga menyelidiki perbuatan yang lahir. (Ahmad Amin,1995:10) Lebih jelas dapat dikatakan bahwa hukum itu dapat berkata 8220jangan mencuri dan jangan membunuh8221, tetapi tidak dapat berkata sesuatu tentang kelanjutannya. Sedang etika bersamaan dengan hukum di dalam mencegah pencurian dan pembunuhan, sehingga dapat menambahkan dengan kata 8220jangan berpikir dalam keburukan atau jangan menghayalkan yang tidak berguna8221. Hukum dapat menjaga hak milik manusia, dan mencegah orang yang akan melanggarnya, tetapi tidak dapat memerintahkan kepada si pemilik agar mempergunakan miliknya untuk kebaikan. Adapun yang dapat memerintahkan adalah etika. Dengan demikian itu, etika sebagai pedoman untuk mengetahui bagaimana seharusnya manusia bertindak yang baik atau etis dan menghindari perbuatan buruk. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa etika mencoba marangsang timbulnya perasaan moral, mencoba menemukan nilai-nilai hidup yang baik dan benar, serta mengilhami manusia supaya berusaha mencari nilai-nilai tersebut. Sedang hukum merupakan seperangkat kaedah atau norma yang tersusun dalam suatu sistem yang berisikan petunjuk bertingkah laku, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dan disertai dengan sanksi, yang bersumber dari masyarakat sendiri maupun dari sumber lain yang diakui keberlakuannya oleh otoritas tertinggi dalam masyarakat tersebut, dan benar-benar diberlakukan oleh warga masyarakat. Jika kaedah tersebut dilanggar akan memberikan kewenangan pada otoritas tertinggi untuk menjatuhkan sanksi. Agar dengan sanksi itu, masyarakat diharapkan supaya selalu berada dalam koridor yang baik serta menghindarkan diri dari perbuatan melanggar hukum, guna menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Kedamaian di sini adalah suatu keadaan yang mencakup dua hal, yaitu ketertiban atau keamanan dan ketentraman atau ketenangan. Ketertiban atau keamanan menunjukkan pada hubungan atau komunikasi lahiriyah, jadi melihat pada proses interaksi para pribadi dalam kelompok masyarakat. Sedang Ketentraman atau ketenangan menunjuk pada keadaan bathiniyah, jadi melihat pada kehidupan bathiniyah ( internal life ) masing-masing pribadi dalam kelompok masyarakat. (Purnadi Purbacaraka dkk,1993:20) Dengan demikian itu, dapat dipahami bahwa hubungan hukum dan etika sangat erat. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.(Sudikno Mertokusumo,1991:36). Pengertian-pengertian dasar hukum adalah pengertian yang saling berhubungan antara nilai, etika, kaedah dan pola perilaku. Hukum ditujukan kepada manusia sebagai makhluk sosial. Sebaliknya etika ditujukan kepada manusia sebagai individu, yang berarti bahwa hati nuranilah yang memiliki peranan karena disitulah perasaan yang berfungsi. Sasaran etika semata-mata adalah perbuatan manusia yang dilakukan dengan sengaja. Baik atau buruk, tercela dan tidak tercela, suatu perbuatan itu dihubungkan dengan ada tidaknya kesengajaan, kalau ada unsur kesengajaan dalam pelanggaran maka tercela. Maka seseorang itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang disengaja. Perbuatan yang disengaja itu harus sesuai dengan kesadaran etisnya. Apa yang menurut masyarakat demi kedamaian dalam arti ketertiban dan ketentraman, serta kesempurnaan yang baik, itulah baik. Hukum adanya hanya dalam masyarakat manusia, sedangkan masyarakat manusia itu beraneka ragam, maka dapatlah dikatakan bahwa ukuran baik dan buruk dalam hal ini tidak mungkin bersifat universal, karena hukum itu terikat pada daerah atau wilayah tertentu. Kesadaran etis bukan hanya berarti sadar akan adanya kebaikan dan keburukan, tetapi lebih dari itu, harus ada kesadaran untuk mewujudkannya dalam perilaku. Karena pelanggaran etika bukan merupakan pelanggaran kaedah hukum melainkan dirasakan sebagai pertentangan hati nurani. Sementara kaedah hukum berisikan pedoman tingkah laku yang mengarahkan tindakan manusia pada perilaku yang baik, dan menghindarkan perbuatan buruk, serta mempunyai kekuatan yang bersifat memaksa dengan ancaman sanksi. Akan tetapi jangkauan hukum kadang terbatas, sehingga hati nuranilah yang memiliki peran yang sangat penting dan luas terhadap etika bagi setiap orang.